Gempa di Matahari

Ledakan bintang ternyata bisa membuat Matahari berdentang laksana lonceng. Ini adalah hasil penemuan Christoffer Karoff and Hans Kjeldsen dari University of Aarhus, Denmark. Ledakan bintang atau yang dikenal sebagai Solar flare atau flare Matahari adalah ledakan yang umum terjadi di sekitar Matahari dan mencerminkan aktvitas siklus bintik.

Di lapisan terluar Matahari terjadi semburan material yang kemudian mengendalikan terjadinya osilasi di seluruh Matahari. Kejadiannya sebenarnya mirip dengan berdentangnya Bumi selama beberapa minggu setelah terjadi gempa besar-besaran. Kemungkinan ini pertama kali diajukan pada tahun 1970, namun belum pernah ada demonstrasinya sampai dengan sekarang. Baru saat inilah untuk pertama kalinya bukti pengamatan berhasil menangkap kejadian tersebut. Penemuan ini tidak hanya menolong kita dalam memahami proses fisis di Matahari namun bisa menjadi petunjuk untuk memahami perilaku siklus akivitas di bintang lain.

https://amazinguniverse.files.wordpress.com/2011/08/6804a-16-2bthe2bpart2bof2bthe2bsun.gif?w=470
Struktur matahari

Seismologi Matahari

Pengawasan berkelanjutan terhadap osilasi Matahari atau yang juga dikenal sebagai helioseismologi saat ini menjadi teknik yang digunakan untuk mempelajari struktur fisik Matahari. Pengawasan tersebut salah satunya adalah mengawasi bagian lapisan-lapisan yang berbeda dari gas panas dan plasma. Secara umum, osilasi ini didahului oleh pergolakan konveksi yang terjadi di dekat permukaan Matahari saat materi panas muncul dari kedalaman Matahari dan kembali tenggelam saat menjadi dingin. Gerakan ini menyebabkan terjadinya derau latar belakang yang mengguncang Matahari dengan frekuensi yang cukup luas.

Kejadian tersebut cenderung menyembunyikan osilasi yang terjadi oleh kondisi lokal seperti flare Matahari, letusan plasma panas yang besar yang terjadi akibat perubahan mendadak di medan magnet Matahari. Akibatnya terjadi pelepasan energi dalam jumlah besar dan dikenal dapat menyebabkan terjadinya riak pada permukaan sebuah kolam saat ada kerikil jatuh di dalamnya.

Flare Matahari umumnya terjadi di sekitar bintik Matahari, dan ini menunjukan siklus aktivitas yang mencerminkan siklus bintik Matahari yang terjadi dan mencapai puncaknya tiap 11 tahun.

Saat Karoff dan Kjeldsen mempelajari data dari dua satelit yang mengawasi Matahari (the Solar and Heliospheric Observatory and the Geostationary Operational Environmental Satellite), mereka menemukan kalau osilasi frekuensi tinggi di seluruh bintang lebih terlihat saat flare Matahari lebih aktif, dan memperlihatkan secara tidak langsung hubungan diantara keduanya.

Osilasi tersebut teramati secara tidak langsung. Kedua satelit melihat adanya pergeseran pada frekuensi cahaya yang dipancarkan Matahari akibat gerak permukaan Matahari. Data inilah yang diambil dan diinterpretasikan kalau pergeseran itu terjadi akibat goncangan. Pengamatan ini baru yang pertama. Pekerjaan baru dimulai dan yang harus dilakukan adalah mengungkapkan bagaimana energi dari flare dihantarkan ke dalam osilasi tersebut.

Lemparkan Cahaya Ke Matahari

Untuk mempelajari lebih lanjut diperlukan perencanaan dengan model struktur Matahari untuk area dimana flare dan bintik Matahari terbentuk. Menurut Houdek, pekerjaan lanjutan akan memberi secercah cahaya untuk memahami siklus Matahari yang sampai saat ini belum dipahami secara kesleuruhan. Bisa jadi dengan studi lanjutam bisa disingkap simpul pengembalian antara gempa Matahari dan flare. Sementara untuk osilasinya, tim peneliti memperkirakan hal tersebut terjadi sebagai respon balik dari aktivitas flare. Houdek juga memperkirakan kalau getaran yang terjadi itu bisa jadi mengubah struktur matahari dan mempengaruhi proses terbentuknya flare.

Bagi Karoff yang juga meneliti bersama Houdek, penemuan ini mungkin bisa juga terjadi pada bintang lain. Dengan mempelajari Matahari diharapkan kondisi di bintang lainnya bisa dipahami. Namun sampai saat ini masih sangat sulit untuk mempelajari apakah bintang lain juga memiliki siklus flare dan bintik yang bisa dibandingkan dengan Matahari. Mengapa susah? Gampangnya karena bintang lain memang berada terlalu jauh untuk diamati. tapi sekarang, dengan mengambil sinyal osilasi dari berkas cahaya Matahari, kita bisa mencoba untuk menarik kesimpulan mengenai siklus aktivitas flare pada bintang jauh.

Jika sinyal yang sama bisa dilihat pada bintang jauh, maka bisa disimpulkan kalau bintang tersebut juga memiliki flare. Data seperti itu akan bisa didapat dari satelit astronomi seperti Kepler telescope milik NASA yang akan diluncurkan tahun depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s