Multiple Impact, Teori Baru Terbentuknya Bulan

collisionscience

Selama 4,5 miliar tahun, Bulan selalu setia mendampingi Bumi mengorbit Matahari. Tapi masih menjadi misteri bagaimanakah teman Bumi itu bisa terbentuk.

Berbagai macam teori telah diungkapkan ilmuwan mengenai proses terbentuknya Bulan, dan sampai saat ini belum ada teori baru yang benar-benar lepas dari kelemahan. Saat ini ada teori baru yang diusulkan ilmuwan, yakni teori multiple-impact.

moon-formation-theories-theia

Ilustrasi teori Giant Impact.

Sebelumnya, teori paling kuat mengenai terbentuknya Bulan yakni teori Giant Impact. Menurut teori ini, Bulan terbentuk akibat tabrakan antara Bumi dengan planet Theia sekira 4,5 miliar tahun lalu. Hasilnya adalah banyaknya material yang terlempar ke angkasa luar dan membentuk piringan mirip cincin Saturnus. Karena gravitasi, material-material tadi berkumpul menjadi satu untuk kemudian membentuk obyek besar yang hari kita sebut sebagai Bulan. Tapi teori ini memiliki kelemahan yakni setelah diselidiki materi Bulan lebih mirip Bumi daripada Theia, harusnya sebaliknya. Kemana perginya bagian besar Theia?

Untuk mengatasi kelemahan teori ini, maka ilmuwan mengungkapkan teori baru yakni teori multiple-impact. Secara garis besar menurut teori ini, sekira 4,5 miliar tahun lalu ada beberapa obyek antariksa seukuran Mars menghantam Bumi, mengangkat material/debris Bumi terbang ke luar angkasa. Debris tadi akhirnya membentuk piringan yang mengorbit di sekitar Bumi, mirip seperti cincin Saturnus. Selama beribu-ribu tahun, debris pada cincin ini berakselerasi untuk membentuk gumpalan-gumpalan yang semakin lama semakin membesar dan jaraknya dengan Bumi pun semakin menjauh karena efek pasang surut dengan Bumi. Akhirnya gumpalan tadi berada pada jarak yang dikenal sebagai Hill radius yang kemudian bersatu membentuk satu Bulan besar.

Tabrakan itu bukan terjadi sekali waktu, namun beberapa kali dengan obyek lain yang juga seukuran Mars dalam waktu yang relatif berdekatan yang juga kemudian membawa debris ke angkasa, membentuk piringan, dan membentuk gumpalan besar untuk kemudian bersatu dengan bulan baru yag sudah terbentuk tadi membuatnya semakin besar hingga seperti yang ada saat ini.

Nature Geoscience 10, 1 (2017). doi:10.1038/ngeo2866

Ilustrasi teori multiple-impact tentang proses terbentuknya Bulan. Image credit: Raluca Rufu.

Beda teori ini dengan teori Giant Impact adalah obyek yang menabrak Bumi bukanlah planet Theia, melainkan obyek seukuran planet Mars dengan komposisi yang juga mirip Bumi, dan juga obyek tersebut bukan hanya satu tapi beberapa obyek yang menghantam Bumi dalam waktu berbeda tapi masih berdekatan. Teori ini mampu menjelaskan dengan cukup baik mengapa material Bulan sangat mirip dengan Bumi.

Menurut Raluca Rufu selaku peneliti dari Weizmann Institute of Science sekaligus pencetus teori ini, teori multiple-impact ini lebih alami dalam memberikan penjelasan mengenai terbentuknya Bulan. Pada awal terbentuknya tata surya, tabrakan yang terjadi lebih dari satu kali, bukanlah sekali seperti teori yang saat ini ada (Giant Impact), tambahnya.

Teori ini bukanlah akhir dari penelitian. Seiring berkembangnya ilmu astronomi, mungkin saja nanti akan muncul teori-teori baru lainnya yang bahkan bisa lebih akurat lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s